Showing posts with label Takdir. Show all posts
Showing posts with label Takdir. Show all posts

Wednesday, May 23, 2012

Pindah Blog ke Wordpress

Blog saya yang baru di http://ekoswibowo.wordpress.com
Mungkin sekali artikel ini merupakan artikel terakhir saya di blog ini. 

Untuk selanjutnya saya memindahkan blog ke http://ekoswibowo.wordpress.com. Mungkin juga akan saya jadikan dot com, tapi dibiarkan di wordpress.com juga tidak mengapa.

Alasan utama sebenarnya masalah praktis saja : Wordpress menyediakan aplikasi android yang bagus, tidak demikian halnya dengan Blogger. Secara ofisial, blogger tidak menyediakan aplikasi blogging Androidnya bagi Indonesia (dan mungkin juga negara lain). Setelah membaca beberapa aplikasi blogging pihak ketiga, saya putuskan tidak nyaman menggunakannya. Dan, .. voila! Perpindahan ke Wordpress tidak terelakkan lagi...

Namun, sebenarnya sudah lama juga saya ingin memulai blog baru. Alasannya karena niat awal blog ini adalah masalah komersialisasi jasa konsulting pemrograman ( yang pada realisasinya lebih banyak membantu penyelesaian Tugas Akhir teman-teman S1/S2/S3 ), maka untuk saat ini saya merasa niatan awal tersebut sudah tidak relevan lagi. Saya ingin menjadikan blog yang baru di http://ekoswibowo.wordpress.com sebagai blog yang lebih mengedepankan pembahasan hal-hal aktual yang terjadi, pun juga --sebagaimana ciri khas blog-blog pribadi-- sebagai tempat penuangan inspirasi, ide dan visi.

So, bagi yang sering membuka blog ini, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Menurut saya, beberapa artikel di blog ini tetap bermanfaat, karena lebih mengedepankan pembahasan masalah teknis software dan pemrograman.

Sampai jumpa di blog yang baru!
Terimakasih,

Eko SW

Monday, April 09, 2012

What's next after FAO?

Kemana ya, habis dari FAO?
Initial contract saya dengan FAO cuma 3 bulan.
Namun, Programme Officer FAO pernah nyeletuk, "Don't worry Eko. You've done your job well. We'll extend your contract".


Actually, yang saya pikirkan bukan masalah perpanjangan kontrak.
Tapi apa yang akan saya lakukan setelah kemampuan saya sudah cukup dibutuhkan untuk FAO...

Tapi kalau mengingat salah satu alasan saya menerima kerjaan FAO adalah untuk meningkatkan prestise Curriculum Vitae saya, maka tentu langkah yang paling masuk akal adalah mencoba memasukkan CV tersebut ke posisi yang lebih lagi : in term of sallary, compliment and scope.

Terbayang memasukkan CV ke salah satu vacancy yang tersedia di http://unjobs.org, yang adalah situs lowongan kerjaan yang sedang available untuk semua agency PBB di seluruh dunia.

Apakah itu yang akan saya lakukan ya?
To be honest, ... maybe :)

UPDATED :

  • Juga ada situs UNDP Jobs untuk Indonesia. Semoga bisa Anda manfaatkan!
  • Atau, mencoba mencari peluang untuk beasiswa yang bebas ikatan instansi : Erasmus Mundus. Semoga informasi ini bisa berguna bagi Anda!




Monday, February 27, 2012

(Memulai?) Karir di Kantor FAO (UN), Jakarta

Laman resmi FAO

[dari milis Ilkomp UGM 98]

"Dari skala 1 sampai 10, tebakan saya pribadi bahwa saya akan kerja di jakarta ada di range 1-2.
tapi, setelah ngerjain proyek bandara soetta, well, ada perasaan menarik ttg jakarta :
1. Menantang
2. Kesibukannya membuat naluri/hasrat bergairah :))

pas merasakan itu dan pulang ke jogja.... adem ayem..... kinda missing that feeling

pada saat yg tepat, dpt invitasi  dari undp, fao.
so, interview, mereka senang, speak2 ttg salary, okay"

"Selamat ya Ko,

Bener,kos bisa seputaran Karet"


"seneng ma scope pekerjaanya. :)

tapi, jujur, seminggu ini duniaku serasa kiamat
well, at least, dunia yang kubangun dari awal di jogja..."

"Selamat menikmati macetnya jakarta juga Ko :)

Tp karet-thamrin masih gampang lah .."

"Dah pernah konversi penghasilan vs biaya hidup di tempat masing2 kox? Klo setauku sih jogja vs jakarta ya 1 : 2... Jadi paling enak itu misal kerja di Jogja tapi gaji rate Jakarta, huehuehue... "

"kadang2, ternyata, ada sesuatu yang lain selain dari penghasilan...
yeah, kira2 begitu... :D"

"Jangan dihitung first time nya, itung juga multiply kenaikannya :-D"

"@lux :
saya ga kebayang boyong anak istri ke jakarta...
tapi, .. masa depan orang, siapa yang tahu...

kalau pun mereka akan saya boyong, maka itu pasti u/ masa depan yang enggak bisa dielakkan lagi

* kalau u. kerjaan koding2 aja sih, saya bela2in pp jog-jkt akhir minggu deh..."

"nggak usah diboyong juga gpp pak bos, kan ada istana jogja sama istana di bali, selain istana di jakarta, masih ada bogor, cipanas, hehehe"

"* gleks... :p
terus di akhirat di hisab habis2an ma Allah.... ga bs lewati gerbang surga yg manapun... "

"got the point"

""Yup, bener? Yakin ente mo kerje di Jakarte?"


Awalnya aku mo bilang seperti yang dibilang Bambang, tapi tiba-tiba gak 

jadi. Aku baru ngerasain Jakarta 4 tahun dan di Semarang 2 tahun.
Akhirnya aku menyimpulkan bahwa wherever you live, asalken menikmati, so 
that's your life.
So ko, pastikan kamu menikmati jakarta karena ada yang bilang bahwa 
Jogja itu menjadi sangaatt.. sangaatt.. indah pada saat kita 
meninggalkannya :p"


"^_^ hampir aja aku mau ndredeg

tapi ya itu kok. weekend pulang
* tapi ini masih teory, gmn ya prakteknya??

oya. ada temen adbandara yg gitu juga, dan dia tiap weekend pulang
akhirnya minta di pindah tugas ke jogja :D"

"Prakteknya, pakdhe Eko?
Kebetulan pernah nyicipin mencari nafkah di ibukota.
Aku 3 tahunan di Jakarta, 1 tahun+ dijalani dg bolak balik jogja-jkt hampir tiap weekend, klo gak lg tugas luar daerah.
Kalo kerjanya di bandara ato kantor deket bandara ya lumayan enak, bisa cepet dari kantor/kos ke bandara ngejar boarding.
Sementara aku dulu tinggal di daerah rutan Salemba, kantor di jl mh thamrin, so...butuh berjam2 ke bandara,
belum lg klo macet, hari jumat tuh perlu diwaspadai, bisa2 pesawat udah sampe jogja kita blm sempet boarding. hehehe... opsi selanjutnya ya naik kereta. 8-9 jam perjalanan jakarta-jogja.
Kalo pas mo hari besar harus jauh2 hari pesen tiket, entah pesawat ato kereta.


Masing-masing kota ada enak ada kurang enaknya. so... met menempuh hidup baru :)

hehehe....piss, pakdhe."

":D nice share...

makasih le..."

"Eko,

You decided already, so sharing temen2 ya dianggap hiburan aja ya :-) Masing-masin pasti punya cerita berbeda.



Kalau gw sih : "You won't achieve extraordinary things if you think and do like ordinary people""

" Halo Ndre,
Yup... semua share, spt kata Mr. Obama : http://bit.ly/swdev-obama
Not Bad!

nice quotation...!"

"Saran dariku Pak Eko,

Tinggal di Jakarta, jadi extraordinary person, punya extraordinary SALARY plus extra SALARY, beli tanah di Jogja buat bikin kost-kostan para Mahasiswa, beli kebun Apel di Malang buat ngasih kerjaan orang Malang, beli perumahan di Jakarta yang punya suasana Sejuk, sabtu-minggu pergi ke Jogja atau Malang buat narik duit panenan... 

Really extraordinary people... :)

salam"

"Bismillah. Amiin.... :)"


Catatan:

  1. Laman vacancy yg saya isi : disini.
  2. status Facebook : "Duluuuu sekali, saat masih ngerintis kerjaan, saya ngirim lamaran kerja ke UNDP, jogjakarta, karena ditawari temen seangkatan yang ngantor duluan disana. Itu tahun 2006.Eits, 2012 dikontak dari FAO, Jakarta, ditanya kalau tertarik ngerjain kerjaan (ya iyalah) ngembangin data management system yang baru untuk data spasial Forestry di Indonesia. Awalnya, agak enggan, karena kepikir jauh dari keluarga. Tapi dipikir lagi, harus banyak bersyukur, karena diberi penghargaan yang tinggi dengan diundang bekerja disana.So, reply dengan CV, dibales dengan schedule wawancara (per telpon), wawancara oleh banyak orang (Italy, Jakarta, *afrika mana gitu*), nego remunerasi dan siap2 berangkat.27 Feb besok saya dah stay di jakarta.."
  3. Salah satu kesimpulan saya tentang jalan hidup saya adalah : Takdir. Tak bisa dielakkan, juga tak bisa dipercepat. Memaksa, dan akan sangat mengikat. Kalaupun manusia bisa mengubah takdirNya, maka itu karena ijinNya semata. Salah satu nasehat ayah saya : "Kamu harus ikhlas dan menjalankannya dengan kepasrahan total".

Bismillah.
Nasehat tambahan :

  1. [14:38:28] Agung Dewandaru: focus and dont procrastinate![14:38:45] Agung Dewandaru: hehe just my two cents.

Friday, October 28, 2011

Berusaha Memahami Diri Sendiri : Passion Saya

Bismillah...
Sederhana ya, bendera kita itu?


Kemungkinan, ini akan menjadi artikel saya yang paling jujur dan terbuka perihal apa yang saya pikir dan rasakan. Tapi jangan-jangan Anda akan berkomentar, "Memang apa hubungannya apa yang dirimu pikirkan dan rasakan dengan saya?". Wkwkwkw. Benar juga, tapi yah, mau bagaimana lagi. Blog ini merupakan media saya untuk memahami diri saya, yang, seringkali, tidak mudah bagi saya untuk saya pahami. Kalau kebetulan Anda baca, pablehbuat, saya ga mau disalahkan untuk hal tersebut...:p

Hal yang terdalam pada bathin saya dan terkadang sering keluar ke permukaan itu adalah : "Sering timbul passion pada diri saya untuk menjadi Presiden RI"

Yup, saya tuliskan saja dengan begitu gamblangnya. Kejujuran akan perihal yang paling disembunyikan di dalam hati, akan mampu merubah banyak hal, kalau tidak, segalanya. Mungkin ini seperti sesi-sesi pada terapi psikologi, dimana para audiens diminta menceritakan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan alami. Kalau yang disampaikannya itu adalah suatu penderitaan, maka dengan menyampaikannya, penderitaan itu akan terasa jauh lebih ringan. Kalau yang dialaminya tersebut merupakan goncangan jiwa, maka dengan menceritakannya, goncangan tersebut akan lebih mudah untuk dicari pemecahan yang akan membuat jiwa kembali menjadi stabil.

Hm, entah deh, darimana passion gila ini berasal. Saya juga clueless untuk hal ini.

Mungkin, ... karena bathin saya sering tersiksa melihat orang-orang yang kehidupannya begitu berat, hanya untuk menghasilkan begitu sedikit uang untuk sekedar kebutuhan hidup yang tidak seberapa. Saya tidak tahan menyaksikan itu semua. Terkadang saya berpikir, mungkin sedikit banyak seperti inilah perasaan Sidharta saat melihat tiga penderitaan umat manusia : penyakit, tua dan mati.

Dan kalau saya bilang tersiksa, maka itu bener-bener perasaan tersiksa yang kuat, yang membuat air mata saya mengalir deras, nafas tersengal-sengal dan membuat saya tidak mampu lagi melihat pemandangan itu. Sederhana sih pemandangannya : sekedar melihat tukang bakso lewat di jalan yang begitu panas terkena terik sinar matahari, atau melihat dua anak jalanan yang bergendong-gendongan dengan begitu riangnya di trotoar jalan, atau sekedar melihat simbah-simbah yang mengangkut bawaan berat sepulang dari pasar, dan banyak lagi. 

Oh, tidak. Tidak sekalipun saya mengarahkan tudingan saya ke orang-orang yang berada di posisi vertikal yang begitu tinggi dalam hal kekuasaan dan kekayaan. Jari telunjuk bathin saya mengarah ke satu titik : Pencipta. Allah. Saya menyalahkan Allah. Kesederhanaan berpikir saya hanya begini saja, "Ya Allah, kenapa kau ciptakan dunia jadi seperti ini sih? Kenapa tidak kau buat kami semua ini di dunia bahagia sih? Kenapa.. kenapa.. dan sekali lagi, kenapa....???"

Mungkin gara-gara itu, di bathin saya lalu bergejolak passion yang kuat untuk menjadi Presiden RI. 
Entahlah, saya rasa seorang Presiden mampu mengubah banyak hal dengan kekuatan yang diamanahkan di atas pundaknya..

BUT WAIT...
Itu skala passion. Skala gejolak. Skala emosi. Atau skala hati.
Tapi dalam hal sikap hidup, track record kesuksesan, atau prinsip-prinsip hidup, saya akan terbahak-bahak menertawakan diri saya sendiri, "Lha wong kamu ini ngatur kegiatan harian aja lebih sering kacau balau, kok sampai punya keinginan jadi Presiden. Negara mau kau apakan Ko?", atau, "Wong, dirimu itu antara tidur dan kerja, masih lebih seneng milih tidur, kok mau mikir jadi Presiden... Ngimpi kali yee?". Atau, "Boro-boro mau jadi Presiden, kerja bakti aja ga pernah jalan. wkwkwk".

SOLUSI?
Doa.
Maka saya hanya mampu berdoa dan memperbaiki amalan-amalan ibadah saya, agar dengan Kekuasaan dan KehendakNya, Allah Sang Pencipta, berkehendak untuk memperbaiki kehidupan bagi begitu banyak rakyat,  yaitu manusia yang berada pada level paling bawah pada tataran kehidupan bernegara. Agar supaya tidak ada lagi air mata dari rakyat yang tumpah hanya karena sesuatu yang sesungguhnya bisa dicegah, jika saja Sang Presiden mau menahan lapar dan nafsu, semata-mata agar Rahmat Allah dicucurkan kepada bangsanya.

Amin.
Untuk istriku : itulah solusiku :)

Saturday, October 15, 2011

(Belajar Menguasai) Kepemimpinan yang Paripurna

Pendiri Bangsa Ini
Saya berpendapat, kepemimpinan adalah salah satu hakikat penciptaan umat manusia.
Berdirilah sebentar, dan lihat sekeliling Anda : tidakkah semua menundukkan dirinya kepada Anda?
Sungguh aneh, kenyataan bahwa manusia memiliki fisik yang JAUH LEBIH lemah dari seekor gajah, justru sanggup memerintah gajah untuk membantu banyak urusan-urusan umat manusia. Betapa Anda pun akan menyadari, bahwa hewan-hewan yang jika diciptakan lebih besar dari manusia akan sangat menakutkan, telah terlebih dahulu punah dari muka bumi sebelum manusia berkeliaran untuk meramaikan bumi.

Namun semua keistimewaan tersebut, ... tidaklah tanpa suatu pertanggungjawaban.

Pertanggungjawaban yang sempurna kepada Allah, Pencipta Anda, saya, hewan, tumbuhan, bulan, matahari dan segala yang terlihat maupun tidak terlihat. Kenyataan manusia diberikan amanah yang teramat dahsyat ini, disampaikan Allah di hadapan para malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah di muka bumi". Khalifah.. pengganti Allah. Pengganti dalam konteks melakukan hal-hal yang merupakan tanggung jawab Allah: menyejahterakan Bumi, memberikan keadilan kepada Umat Manusia dan menaungi makhluk lain yang lemah. Anda pun dituntut secara tegas untuk menundukkan serta merendahkan diri kepada semua makhluk, karena secara hakiki, Anda bukan siapa-siapa. 

.:. Saya berpendapat, hakikat kepemimpinan adalah menjaga bumi dan segala isinya

Monday, October 03, 2011

(Berusaha Mencapai) Kualitas Bersabar yang Lebih Tinggi


Untuk perkara sabar, saya teringat kata-kata bahwa Sabar adalah Urutan Terakhir  Nama Allah pada Asmaul Husna. Karena begitu beratnya sifat sabar untuk bisa kita miliki.

Saya berpendapat, sabar adalah sifat yang paling berat untuk dicapai. Mungkin juga ada yang berpendapat bahwa syukur yang lebih sulit. Namun, saat kita haus berhari-hari, dan begitu ada seteguk air yang masuk ke kerongkongan, maka kita akan mudah berucap : "Alhamdulillah". Tapi tidak banyak dari kita yang bisa berucap hal yang sama, selama penantian air yang tak kunjung datang. Nah, letak dimensi sabar seperti itulah tingginya. 

Namun, berdasar hadits Nabi SAW :"Iman terbagi dua, separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur". (HR Al-Baihaqi). Dalam hemat saya, baik syukur maupun sabar, tingkat ujiannya setara. Kondisi syukur mungkin akan membuat kita terlena. Hm, betul. Betapa sering saya lalai dan tidak efektif dalam beraktifitas, yang itu merupakan salah satu tanda syukur.

Bismillah, semoga bermanfaat...khususnya bagi saya

Friday, September 30, 2011

Engkaulah Khadijahku!

Khadijahku... 

Saya sangat mencintai Nabi Muhammad SAW. 
Ah, ini tidak boleh hanya terkatakan dengan tulisan. Harus dengan suatu sikap hidup yang berada di belakang jejak beliau SAW. Amin.

Beliau adalah manusia, yang tergentar saat pertama kali melihat Malaikat Jibril. Dan saat pertama wahyu turun, "Bacalah!". Juga saat setelah itu melihat Malaikat Jibril memenuhi ufuk dan berkata dengan lantang, "Muhammad Rasulullah!". Beliau SAW adalah manusia mulia. Semulia-mulianya manusia yang diciptakan Allah SWT. Pun saat peristiwa tersebut, Beliau SAW menggigil ketakutan, namun ditenangkan oleh Khadijah, "Suamiku, engkau adalah orang yang gemar menghubungkan silaturahim. Allah pasti tidak akan meninggalkanmu". Kata-kata tersebut membuat Beliau SAW tenang, dan mantap untuk menerima risalah ilahi sebagai Utusan Allah bagi umat manusia.

Dan, wahai istriku, Ela Nurlaela..., "Engkaulah Khadijahku!"