
Situasi sekarang mungkin belum final, namun sudah kuat landasannya. Ada beberapa perubahan yang dihadapi dengan ketidak tahuan di awal, namun akhirnya mulai bisa dirasakan sebagai sebuah karunia. Meski, tidak semuanya juga bisa dihapami, bagaimanapun juga, saya baru menjalani setengah dari jatah usia (kurang lebih, jika saya sampai usia 60 tahun).
Yang pertama adalah, di posisi mana saya dalam hidup di dunia ini. Hm, awal2 di tahun 2003, saya punya ambisi, mimpi dan juga ketidakwarasan (hehe), dan tidak mudah untuk mengatasinya dengan akal sehat. Beberapa teman menjadi curahan hati dan pikiran, baik secara kekeluargaan, pertemanan maupun yang profesional di bidangnya. Terimakasih untuk mas Bimo dari Gamatechno yang mencipratkan kekuatan yang sederhana saja : menikahlah. Itu, perubahan haluan biduk yang paling utama. Dari sana, semua karunia bercurah2.
Yang kedua adalah sampai akhir hayat nanti, apa yang saya lakukan? Tepatnya, bagaimana cara mengisi hari2 di dunia ini? Jawabannya sederhana saja : bekerjalah dari rumah, lihat dan nikmati hari2 bersama Al-Fath setiap hari dan resapi makna kebersamaan dengan Ela, istrimu, tiap harinya. Tidak banyak yang mampu mengenyam semuanya itu setiap detiknya dari hidupnya. Ada mungkin, yang merasakan kehidupan yang sempurna dengan meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor tiap harinya, kurang lebih 12 jam tiap hari. Pergi saat anak tidur, pulang saat anak telah tidur. Atau, ada juga, seorang suami yang jarang sekali melihat istrinya di rumah, karena istri dan juga dirinya sibuk dengan ... karir, sepanjang harinya. Bukan kehidupan itu yang kamu sukai. "Terimakasih Tuhan".
Yang terakhir, tentang pengabdian. Betapa ingin mencurahkan semua kemampuan untuk bidang ilmu yang saya cintai, Pemrograman. Sejauh ini, hanya ada tiga tempat yang saya lihat menjadi tempat curahan pengabdian : via Rumah, Blog ini dan buku (yang masih dalam wacana penulisan). Kampus? Hm, ... mungkin tidak akan pernah. "Terimakasih Tuhan"
Semuanya bermuara pada satu hal : cinta kepada Muhammad. "Saya tidak mampu mengklaim mencintai Beliau SAW, sampai saya ingat, ada tahun2, dimana semua yang saya cintai direnggut dari kehidupan saya, dan dikosongkan kecuali cinta kepada Muhammad." Keindahan masa2 itu, mungkin tidak mampu dilukiskan, kecuali dengan penggalan mimpi bertemu Sang Nabi di awal2 tahun 20-an : "Yaa Nabi, bagaimana caranya aku berada di surga bersama2 Engkau?"
Dan Ela akan menjadi pendamping saya di surga tersebut....
"Terimakasih Tuhan", "Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah"
Semoga bermanfaat:
Yang pertama adalah, di posisi mana saya dalam hidup di dunia ini. Hm, awal2 di tahun 2003, saya punya ambisi, mimpi dan juga ketidakwarasan (hehe), dan tidak mudah untuk mengatasinya dengan akal sehat. Beberapa teman menjadi curahan hati dan pikiran, baik secara kekeluargaan, pertemanan maupun yang profesional di bidangnya. Terimakasih untuk mas Bimo dari Gamatechno yang mencipratkan kekuatan yang sederhana saja : menikahlah. Itu, perubahan haluan biduk yang paling utama. Dari sana, semua karunia bercurah2.
Yang kedua adalah sampai akhir hayat nanti, apa yang saya lakukan? Tepatnya, bagaimana cara mengisi hari2 di dunia ini? Jawabannya sederhana saja : bekerjalah dari rumah, lihat dan nikmati hari2 bersama Al-Fath setiap hari dan resapi makna kebersamaan dengan Ela, istrimu, tiap harinya. Tidak banyak yang mampu mengenyam semuanya itu setiap detiknya dari hidupnya. Ada mungkin, yang merasakan kehidupan yang sempurna dengan meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor tiap harinya, kurang lebih 12 jam tiap hari. Pergi saat anak tidur, pulang saat anak telah tidur. Atau, ada juga, seorang suami yang jarang sekali melihat istrinya di rumah, karena istri dan juga dirinya sibuk dengan ... karir, sepanjang harinya. Bukan kehidupan itu yang kamu sukai. "Terimakasih Tuhan".
Yang terakhir, tentang pengabdian. Betapa ingin mencurahkan semua kemampuan untuk bidang ilmu yang saya cintai, Pemrograman. Sejauh ini, hanya ada tiga tempat yang saya lihat menjadi tempat curahan pengabdian : via Rumah, Blog ini dan buku (yang masih dalam wacana penulisan). Kampus? Hm, ... mungkin tidak akan pernah. "Terimakasih Tuhan"
Semuanya bermuara pada satu hal : cinta kepada Muhammad. "Saya tidak mampu mengklaim mencintai Beliau SAW, sampai saya ingat, ada tahun2, dimana semua yang saya cintai direnggut dari kehidupan saya, dan dikosongkan kecuali cinta kepada Muhammad." Keindahan masa2 itu, mungkin tidak mampu dilukiskan, kecuali dengan penggalan mimpi bertemu Sang Nabi di awal2 tahun 20-an : "Yaa Nabi, bagaimana caranya aku berada di surga bersama2 Engkau?"
Dan Ela akan menjadi pendamping saya di surga tersebut....
"Terimakasih Tuhan", "Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah"
Semoga bermanfaat:
- Betapapun nisbi perkara dunia ini, namun sangat mengesankan jika saya dapat mengatur semua sebaik2nya dan mencapai hal2 tinggi dan dalam yang tentu ingin dirasakan banyak orang.
- Semuanya untuk mengisi hari2 yang tersisa... "Yaa Kekasihku..."
No comments:
Post a Comment