![]() |
| Sederhana ya, bendera kita itu? |
Kemungkinan, ini akan menjadi artikel saya yang paling jujur dan terbuka perihal apa yang saya pikir dan rasakan. Tapi jangan-jangan Anda akan berkomentar, "Memang apa hubungannya apa yang dirimu pikirkan dan rasakan dengan saya?". Wkwkwkw. Benar juga, tapi yah, mau bagaimana lagi. Blog ini merupakan media saya untuk memahami diri saya, yang, seringkali, tidak mudah bagi saya untuk saya pahami. Kalau kebetulan Anda baca, pablehbuat, saya ga mau disalahkan untuk hal tersebut...:p
Hal yang terdalam pada bathin saya dan terkadang sering keluar ke permukaan itu adalah : "Sering timbul passion pada diri saya untuk menjadi Presiden RI"
Yup, saya tuliskan saja dengan begitu gamblangnya. Kejujuran akan perihal yang paling disembunyikan di dalam hati, akan mampu merubah banyak hal, kalau tidak, segalanya. Mungkin ini seperti sesi-sesi pada terapi psikologi, dimana para audiens diminta menceritakan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan alami. Kalau yang disampaikannya itu adalah suatu penderitaan, maka dengan menyampaikannya, penderitaan itu akan terasa jauh lebih ringan. Kalau yang dialaminya tersebut merupakan goncangan jiwa, maka dengan menceritakannya, goncangan tersebut akan lebih mudah untuk dicari pemecahan yang akan membuat jiwa kembali menjadi stabil.
Hm, entah deh, darimana passion gila ini berasal. Saya juga clueless untuk hal ini.
Mungkin, ... karena bathin saya sering tersiksa melihat orang-orang yang kehidupannya begitu berat, hanya untuk menghasilkan begitu sedikit uang untuk sekedar kebutuhan hidup yang tidak seberapa. Saya tidak tahan menyaksikan itu semua. Terkadang saya berpikir, mungkin sedikit banyak seperti inilah perasaan Sidharta saat melihat tiga penderitaan umat manusia : penyakit, tua dan mati.
Dan kalau saya bilang tersiksa, maka itu bener-bener perasaan tersiksa yang kuat, yang membuat air mata saya mengalir deras, nafas tersengal-sengal dan membuat saya tidak mampu lagi melihat pemandangan itu. Sederhana sih pemandangannya : sekedar melihat tukang bakso lewat di jalan yang begitu panas terkena terik sinar matahari, atau melihat dua anak jalanan yang bergendong-gendongan dengan begitu riangnya di trotoar jalan, atau sekedar melihat simbah-simbah yang mengangkut bawaan berat sepulang dari pasar, dan banyak lagi.
Oh, tidak. Tidak sekalipun saya mengarahkan tudingan saya ke orang-orang yang berada di posisi vertikal yang begitu tinggi dalam hal kekuasaan dan kekayaan. Jari telunjuk bathin saya mengarah ke satu titik : Pencipta. Allah. Saya menyalahkan Allah. Kesederhanaan berpikir saya hanya begini saja, "Ya Allah, kenapa kau ciptakan dunia jadi seperti ini sih? Kenapa tidak kau buat kami semua ini di dunia bahagia sih? Kenapa.. kenapa.. dan sekali lagi, kenapa....???"
Mungkin gara-gara itu, di bathin saya lalu bergejolak passion yang kuat untuk menjadi Presiden RI.
Entahlah, saya rasa seorang Presiden mampu mengubah banyak hal dengan kekuatan yang diamanahkan di atas pundaknya..
BUT WAIT...
Itu skala passion. Skala gejolak. Skala emosi. Atau skala hati.
Tapi dalam hal sikap hidup, track record kesuksesan, atau prinsip-prinsip hidup, saya akan terbahak-bahak menertawakan diri saya sendiri, "Lha wong kamu ini ngatur kegiatan harian aja lebih sering kacau balau, kok sampai punya keinginan jadi Presiden. Negara mau kau apakan Ko?", atau, "Wong, dirimu itu antara tidur dan kerja, masih lebih seneng milih tidur, kok mau mikir jadi Presiden... Ngimpi kali yee?". Atau, "Boro-boro mau jadi Presiden, kerja bakti aja ga pernah jalan. wkwkwk".
SOLUSI?
Doa.
Maka saya hanya mampu berdoa dan memperbaiki amalan-amalan ibadah saya, agar dengan Kekuasaan dan KehendakNya, Allah Sang Pencipta, berkehendak untuk memperbaiki kehidupan bagi begitu banyak rakyat, yaitu manusia yang berada pada level paling bawah pada tataran kehidupan bernegara. Agar supaya tidak ada lagi air mata dari rakyat yang tumpah hanya karena sesuatu yang sesungguhnya bisa dicegah, jika saja Sang Presiden mau menahan lapar dan nafsu, semata-mata agar Rahmat Allah dicucurkan kepada bangsanya.
Amin.
Untuk istriku : itulah solusiku :)

3 comments:
NB : Oh menyebalkan, ini pas Hari Sumpah Pemuda ya? Kalau tahu, saya ga akan mau nulis artikel sperti ini. Yah, sudahlah. Sudah terlanjur.
saya dukung dengan harapan usulan program nasional :
1. minimal 1-2 bulan sebelum musim hujan semua rakyat dengan koordinasi sampai ketua RT bersih sungai dan keruk sungai, mengurangi efek rahmat Allah berupa air yang melimpah agar bisa di kelola dengan baik.
2. berhenti maen-maen dengan frb dan inflasi.
3. buyback semua saham bumn, dimulai dengan uang kantong presiden Eko sendiri
4. 100% pertanian, perkebunan,peternakan dan perikanan darat organik, terbebas dari pupuk/pakan petrokimia kapitalis yang menyesatkan
apa lagi ya ?
u/ fery : jitaks =))
malah ngusulin program nasional
suruh aku ke psikiater kek
atau suruh aku baca taawudz tiap mo tidur kek
atau apa deh
ini malah ngusulin program nasional
bwahahahaha
Post a Comment