Atau dalam perspektif lain, benarkah kalau saya sampai ketakutan kepada Iblis, dan kemudian mencurahkan hal tersebut ke Allah SWT dan memintaNya agar melindungi saya darinya dengan berkata,"Ya Allah, hamba takut kepada Iblis. Lindungilah hamba ya Allah. Karena hanya Engkau yang dapat melindungi hamba"? Saya benar-benar mengaku tidak mampu mengalahkan Iblis dengan sempurna dalam hal ini... terkadang masih terbetik doa yang berasal dari kebodohan saya dan dibenci para pasukan Malaikat, "Ya Allah, ampunilah Iblis dan Dajjal, dan masukkanlah mereka ke dalam surga"
Bahkan Allah mencatat peristiwa Iblis di dalam Al-Qur'an Surah Al-Hijr:39-40:
"Ia (Iblis) berkata, "Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahawa aku sesat,
1) aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi,
2) dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,
KECUALI hamba-hambaMu yg IKHLAS di antara mereka..."
Dari Tafsir Al-Mishbah yang saya baca, kata-kata bima (disebabkan) sebelum aghwaitani (kesesatan), dapat diartikan sebagai :
- Sumpah. Jadi iblis bersumpah demi penyesatan Allah kepadanya. Namun ini tidak didukung banyak ulama, karena penyesatan bukanlah sesuatu yang pantas dijadikan sumpah. Pun Iblis juga bersumpah dengan kemuliaan Allah SWT.
- Sebab. Menyiratkan bahwa Allah SWT yang menyesatkan Iblis. Pun Allah tidak bantah setelah itu. Hal ini dijadikan landasan kaum Fatalis, bahwa keburukan pun sebagaimana kebaikan berasal dari Allah. Namun bukankah Allah juga jelaskan, bahwa makhlukNya lah yang melakukan penyesatan kepada dirinya sendiri, kemudian Allah buat dia semakin berada dalam kesesatannya?
Saya pernah baca dari suatu buku (sayang sekali, saya enggak ingat lagi buku tersebut), bahwa kalimat iblis yang dicatat Allah tersebut merupakan kalimat fitnah. Iblis seakan-akan mengatakan kepada Allah, "Aku sesat ini bukan karena saya. Tapi karena kamu ya Allah". Ingat bahwa kata-kata tersebut adalah kata-kata Iblis yang dicatat Allah lewat Al-Qur'an. Pun in adalah ujian bagi manusia untuk berprasangka baik kepada Allah SWT, alih-alih berkata, "Tuh, yang menyesatkan Iblis itu Allah"
Kunci dari ayat ini sesungguhnya adalah tentang Al-Mukhlasin/Al-Mukhlisin, yang berasal dari kata Khalusa yang dapat berarti : suci, murni, tidak bercampur dengan yang selainnya. Tulus pengabdiannya semata-mata karena Allah SWT.
Saya berpendapat, siapapun yang mendekatkan diri kepada Allah, akan mendapatkan godaan terus-menerus, yang tiada henti dari Iblis, selama nyawa masih di kandung badan. Meskipun tujuan seseorang tersebut mulia, katakanlah ingin memberikan kebaikan bagi banyak orang, Iblis akan dapat mudah menyesatkannya, selama sesungguhnya di dalam hatinya ada sebetik niat kepada selain Allah. Entah itu agar dipuji, agar dinilai orang lain dsb. Atau yang saya kutip saja dari artikel referensi, "Ya Allah, jadikanlah aku salah seorang daripada para mukhlasin (orang-orang yang ikhlas). Membuat sesuatu karena mencari redho Allah SWT. Bukan karena kan mengimpresskan people. Bukan karena kan membuktikan arah people yang we could do that"
Jujur, saya merasa lemah dalam hal ini.
Semoga saya bisa lakukan segala sesuatu, dalam konteks murni, hanya Allah semata, tanpa muatan makhluk
Amin.

No comments:
Post a Comment