Hehe, sebenarnya, yang namanya Nishob (eeeh, artinya adalah batas sesuatu harus dikeluarkan kewajibannya --tertib aja, jangan dianggap wajib loh), adalah Tiga Hari setiap bulan. Meluangkan waktu 3 hari di masjid, untuk memperbaiki diri dan sama2 mengajak masyarakat sekitar masjid memperbaiki diri. Sederhana saja. Anda muslim sudah sholat berjama'ah? Ya sudah itu cukup, ajak yang lain sama2 sholat berjama'ah. Gampang? Hehe, sembarangan. Rumit tahu.
Pertama, yang namanya
Dakwah, mengajak, itu
abbbooottt tenan. Kaya ada
benteng yang tebel banget antara kita dan teman yg belum sholat, yg mau kita ajak sholat di
masjid. Nah, dengan adanya satu Jama'ah yang punya tertib secara berjama'ah mengajak orang-orang ke masjid, maka halangan tersebut lebih kecil rasanya. Malah mungkin tidak ada.
Nah, memang sih, semenjak rame2nya kasus penangkapan
Teroris kemarin, jama'ah relatif lebih sulit masuk ke desa2 : dicurigai gitu. Secara penampilan, kita kan
berjubah,
bersurban dan
berjenggot (hihi, yah, mau gimana lagi???) Ada kisah dari temen di
Banguntapan, pas lagi iktikaf, di sergap
DENSUS 88. Nah coba? Tapi lucunya, disitu pas yang lagi ikut
khuruj juga ada anggota
Brimob Pelopor (selatan giwangan, sebelah kiri). Jadinya ... lucu kan???? heuheuheu. Mau disergap, ternyata juga seangkatan. Akhirnya, saya agak lupa untuk yang ini, namun di tempat yang lain, pas didatangkan
Polisi, eeeh, polisinya malah bilang gini (kurang lebih) : "Saya juga niat mau ikut khuruj, nanti setelah pensiun". Amiiin. Ini diceritakan oleh
Jama'ah Batam, yang lagi keluar di Jogja.
Hm.. oya, Jama'ah Batam itu kan,
dua malam jum'at yang lalu, pernah kasih
bayan (nasihat agama) di
Markaz Jogja Al-Ittihaad (Jakal KM 5,3 -- depan Wahana). Nah, pas saya denger, saya heran : "kok logatnya
Bali banget ya? Masa dari Bali? Pakai sorban gitu..." (ga mikir kalao saya jg dari Bali dan pakai sorban, dulu sih, hehe. Tapi maksudnya yang ini orang Bali asli gitu. Saya kan cuman numpang dipan untuk pas Ibu saya ngelahirin aja. Aslinya tetep
Purwokerto +
Jogja. :p)
Dan ternyata dia memang
Orang Bali asli. Dulunya
Hindu (tabiiik ya... cerita saja ini)
Ceritanya, setelah
Amrozi ngebomb
(smg ga ada lagi ngebomb2-an gini), beliau malah mikir tentang
Kebenaran. Dan, tiap orang punya jalan yang berbeda-beda tentang ini ya, namun cara yang beliau lakukan, adalah
Semadhi, melakukan pembacaan
Mantram Gayatri sebanyak
1080x setiap malam, dari Jam 1 malam sampai jam 3 malam. Saya lupa berapa lama dia melakukan ini, yang jelas, pada suatu malam, dalam keadaan terjaga, dia melihat pemandangan yang indah.
Hijau, sungai dan pohon2nya, tenang. Nah, dia ingin masuk ke sana, tapi terjaga. Besoknya, kejadian berulang, namun yang dilihat adalah
padang pasir yang tandus. Ditengah-tengahnya ada
cahaya putih2, setelah didekati, ternyata sekumpulan orang
duduk melingkar, dengan lutut yang berdempet-dempetan saking rapatnya duduk mereka. Beliau mendengar
gumaman yang terdengar seperti
Hom, hom hom. Begitulah. Dia mau masuk, namun tidak bisa-bisa. Kumpulan orang ini,
berjubah dan
bersurban terbalik dengan yang dipakainya (kalau di Bali, ikatan surban itu di depan. Namanya
udeng).
Singkat cerita, akhirnya dia masuk
Islam. Pergulatan beliau masuk Islam jelas tidak mudah. Beliau bilang, tiap hari berantem dengan adik kandungnya. Malah dia jadi lebih miskin dari yang sebelumnya (hehe). Karena tidak kuat, akhirnya dia keluar dari Bali, anaknya dititipkan ke
Pondok Pesantren di Jawa Timur. Dia sendiri merantau ke
Batam. Waaah, disini malah ketemu
rombongan Jama'ah yang sedang khuruj, lengkap dengan sorban dan jubah putihnya. Nah, disini jawaban akan penglihatannya dulu ada. Ternyata, suara hom hom hom yang di dengar dulu itu, adalah suara dzikir ini :
"Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, allahu akbar",
"Maha suci Allah, Puji Syukur untuk Allah, Tiada Tuhan Selain Allah. Allah Maha Besar". Dan beliau mantap ikut khuruj bersama Jama'ah semenjak saat itu.
Dan bersua dengan kami di Jogja. :)
Semoga bermanfaat!
NB:
- Pergulatan kepada apa yang membuat Hati Terdalam tenang, bukan hal yang ringan.
- Itu saja...